Janji yang tak kunjung tiba–transfer technology
Indonesia adalah Bangsa yang mudah dipermainkan oleh Dunia Barat?
Teman teman pembaca, jangan cemberut dan emosi dulu yach? Jangan mudah terpancing nasionalisme konyol seperti nasionalisme konyol ketika Malaysia memenangkan perkara dua pulau Sipadan dan Siligat beberapa waktu lalu.
Tulisan ini akan memfokuskan diri pada masalah transfer technology penyulingan minyak bumi menjadi minyak tanah, bensin, premium dan solar serta berbagai jenis minyak olahan lainnya.
Walaupun tidak menyajikan bukti kuat, namun tulisan (opinion) ini dapat dipercaya karena penulis mengambil dari sumber terpercaya (Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya).
Dulu, pada zaman yang tidak enak, ketika perusahan pengeboran minyak (oil mining) datang berekspolari minyak di negeri kita, ada janji yang dilontarkan kepada kita (janji tersebut juga masuk dalam perjanjian kerja), bahwa suatu saat nanti Indonesia akan diberikan teknologi penyulingan minyak bumi. Jadi kita bisa bikin sendiri penyulingan dalam negeri tanpa harus mengekspor ke Singapore untuk disuling di sana. Waktu berganti waktu dan semakin lama, kita dijanjikan dalam waktu dekat, transfer technology dapat terealisasi.
Saatnya datang juga, Indonesia akhirnya mendapat teknologi penyulingan minyak bumi menjadi BENSIN. Senangnya!
Kegembiraan dan kesenangan itu tidak berlangsung lama, bapak ibu saudara saudari sekalian; tidak lama kemudian, BENSIN tidak dipakai lagi di dunia motor,dan diganti dengan penemuan terbaru PREMIUM. Semua kendaraan bermotor baru, tidak support lagi dengan BENSIN melainkan dengan PREMIUM. HHAAAHAHAHAHAA! Kita dipermainkan bukan? Teknologi itu akhirnya hanya dipelajari sebagai bagian dari keilmuan saja, bukan aplikasinya.
Sekarang, semua kendaraan bermotor menggunakan PREMIUM, dan kita mendesak untuk mendapat technology penyulingan Minyak Bumi menjadi PREMIUM.
Janji masih dalam perjalanan menuju Indonesia, sekarang Janji masih berlabuh di perariran China Selatan, menunggu jadwal landing di dan transit di singapura, hehe( bercanda)
TERLAMBAT kan? Bapak ibu saudara saudari dan tamu undangan yang terhormat! Apa kita masih mengingikan janji itu? Saat ini kita belum mendapat technology tersebut, toh kalau dikasih sekarang juga tidak ada gunanya, kita bukan lagi penghasil MINYAK MENTAH, melainkan mengimpor bahan baker, jadi tidak ada gunanya technology itu!
Begitulah kerasnya dunia ini! Ketika anda mempunyai sumber yang banyak, orang akan bersedia membayar mahal untuk mendapatkannya, dan dalam tempo singkat mereka menghabiskan semua minyak bumi kita.
Bangsa ini senang, karena kita tidak perlu bekerja, tidur bangun dan mendapat bagi hasil dari eksplorasi minyak bumi kita. Di mana mana, budaya PANCASILA Kita adalah tidak suka bekerja, memberikan kelebihan kita kepada orang, dan ketika habis; giliran kita dipermainkan!
Salah SIAPA? Jangan salahkan kepada Pak Harto. Ia hanyalah sebuah ROH yang ikut bertanggung jawab; salahkan kepada seluruh RUH yang hidup waktu itu.
Mereka yang menikmati bersama di Zamannya, kini lari–mencuci tangannya dan mengatakan ITU SALAHNYA PA HARTO! Dasar orang Indonesia, susah mengakui kalau bersalah! Itulah sebabnya kenapa tersangka di hajar habis habisan sama polisi ketika interogasi–karena tidak mau mengaku dan polisi mau mengubah mental bangsa menjadi bangsa yang mudah mengakui kesalahan secara sukarela dan Gentleman. (betulkah?)
Bersambung!!!
kalau ada grammar yang salah mohon maaf, tidak ada editor,,,


rizalbani says:
September 23rd, 2009
5:38 pm
Yah. Mental BS! Seperti itu harus dieliminasi. Kalau tidak bisa menggerogoti mental pemenang generasi muda Indonesia. “No matter who the leader is, we should be in one opinion of the growing on this beloved country.