Syuradikara dan Tradisi kekerasan

By admin

(Catatan Kenangan dari Pondok Assyur)

Syuradikara adalah sebuah model pendidikan katolik yang telah mampu memberi andil pada dunia pendidikan. Melalui karya para misionaris, sebuah model pendidikan bergaya eropa telah lahir, dan sejauh ini telah banyak menghasilkan orang-orang berguna di tengah masyarakat membangun, NTT khusunya.

Sistem pendidikan yang masih menyediakan fasilitas asrama bagi siswa-siswinya untuk tinggal dan dididik sebagai sebuah keluarga berdasar nilai-nilai spiritualitas Katolik dan budaya setempat, juga merupakan sebuah cara yang masih cukup mumpuni bagi perkembangan intelektual dan mental siswa-siswinya. Dengan cara ini, para pembina dan pembimbing dapat mengontrol anak didiknya dengan baik, selain fasilias ini juga disediakan dengan maksud agar mereka yang tinggal jauh dari tempat pendidikan tidak perlu cemas dan bingung dengan tempat tinggal.

Tetapi apakah sebuah asrama cukup akomodatif dan nyaman bagi siswa-siswi Syuradikara itu sendiri? Jawabannya selalu berbeda. Beberapa tindak kekerasan yang timbul dalam kehidupan berasrama, khususnya yang berlangsung di Asrama Putra Syuradikara bisa menjadi alasan mengapa setiap jawaban selalu berbeda.

Kehidupan berasrama layaknya kehidupan di dalam sebuah keluarga yang ada. Jika dalam sebuah keluarga ada ayah sebagai kepala keluarga dan ibu sebagai pendampingnya serta anak sebagai anggota keluarga. Maka begitu pun di Asrama Putra Syuradikara yang dikenal dengan nama Asrama Assyur. Di Asrama Assyur ada Presidium I sampai dengan presidium III sebagai ketua asrama dan pendampingnya, serta siswa lainnya sebagai anggota, yang tediri dari beberapa tingkatan, mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 3 SMU.

Situasi yang terbentuk secara tidak langsung melahirkan sebuah alur dan sistem senioritas yang kental. Adik kelas harus menghormati kakak kelas dan kakak kelas berkewajiban melindungi adik-adiknya. Tetapi sebuah teori keluarga yang harmonis cendrung menjadi sebuah teori yang klasik dan tidak berlaku lagi di sini. Sistem senioritas yang dibalut cara “Otoriter” akhirnya menjadi dinamika umum kehidupun berasrama. Pola pikir dan tingkah laku seperti ini atau yang lebih terkenal dengan istilah sistem “Jajah”, tidak dapat terelakkan lagi. (Senioritas yang kebablasan)

Beberapa tindak kekerasan fisik pun lahir, lebih-lebih lagi terhadap adik kelas. satu kenyataan yang bertolak belakang dengan sistem pendidikan yang dibangun. Kenyataan yang harus dihadapi dan diakui bahwa cara-cara seperti ini tidak jauh berbeda dengan cara-cara militer dan sebenarnya tidak lagi relevan di lingkungan Syuradikara. Diperparah lagi bahwa hal ini terjadi terus-menerus dan berulang dari angkatan ke angkatan berikutnya. Sebuah tradisi negatif yang secara tidak sadar dihidupi, dipupuk dan dinikmati sebagai racun bagi perkembangan mental.

Realita ini harus dilihat sebagai sebuah penyakit yang harus segera diberantas. Bukan zamannya lagi kekerasan berbicara lebih banyak untuk membangun sebuah pendidikan. Tetapi pendiidikan yang lebih humanis harus segera ditanamkan dan menjauhkan tindakan kekerasan yang pernah dan mungkin masih terjadi di sini.

Peran para pembina untuk melakukan sebuah reformasi kehidupan berasrama sebagai bentuk kehidupan pendidikan keluarga harus lebih intens dilakukan. Pencegahan terhadap tindak kekerasan yang terjadi mesti perlahan-lahan diganti dengan pendekatan yang lebih rasional dan dewasa. Ini akan mampu membangun sikap mental yang lebih dewasa dan berkepribadian terhadap para siswa. Mereka bisa mulai terbiasa dengan lingkungan yang lebih baik, yang tidak melulu dihiasi oleh tindak kekerasan dan selalu merespon segala sesuatu yang terjadi dengan kekerasan pula. (Lihat saja bangsa ini. Dimana-mana tindak kekerasan menjadi bumbu utama bagi berita harian. sebuah keharmonisan sudah mulai menjadi barang langka. Ini terjadi karena tidak ada lagi keharmonisan dalam keluarga sebagai lembaga pendidikan terkecil dan utama.)

Sebuah tindak kekerasan sebenarnya sebuah alasan yang dibenarkan, karena budaya dialog dan diskusi, serta debat akademis belum terbiasa hidup di lingkungan ini (Asrama Putra Assyur). Jika beberapa hal tadi mampu oleh pihak-pihak terkait dalam hal ini para pembina dibiasakan kepada anak didik, maka tindak kekerasan bisa dicut, dan akhirnya sistem senioritas bisa ditempatkan dalam perspektif yang lebih tinggi dan sesuai dengan tempatnya, yaitu, Kakak melindungi serta mengayomi adiknya, dan adik menghormati kakaknya dalam nuansa kekeluargaan yang harmonis, dinamis, serta berbalut nada-nada akademik yang mantap sebagai sebuah karya “Pahlawan Nan Utama”….
Bravo Assyur…..
Obrigado Trikara….
Hidup Syuradikara…..

By : Iwan’s Iwan

Tags: , ,

3 comments on “Syuradikara dan Tradisi kekerasan”

  1. tradisi sekarang sudah hilang. Hilang pada saat angkatan 2007 memimpin asrama, kalo saya tidak salah tgl 19 September 2006. Namun seiring hilangnya tradisi buruk tsb, muncul tradisi-tradisi baru yang lebih positif, dan menambah kedisiplinan assyur boys…Memmory never ending

  2. hmmmmmm…………………tradisi kekerasan saat di assyur dulu bukan merupakan contoh yang baik dalam pendidikan keasramaan maupun sekolah di assyur indikasi ini dapat kita lihat pada angkatan 97-2000 dimana saat saya pertama masuk angkt. kami berjumlah 63 orang dan yang bertahan sampe kelas 3 tinggal 18 orang….bagi saya kekerasan di assyur mempengaruhi mentalitas serta psykis anak2 yang berdampak pada kemampuan belajar

  3. Kedewasaan terlihat dari kemampuan mengendalikan diri. Bagaimana membangun mentalitas yang baik? Kekerasan sudah out of date.

Leave a comment