Tugas itu Menyebalkan
Hari minggu, seharusnya pergi Gereja, eh bangun telat. Mau Gereja sore juga sudah malas duluan hahaha. Sudah lama tidak menulis lagi, jadi bingung mau menulis tentang apah. Padahal ini udah akhir bulan, huh. Seminggu kemarin benar-benar padat dengan yang namanya tugas. Menjadi mahasiswa, tenyata tidak indah. Tugas terus-menerus datang. Hampir tiap harinya tugas selalu ada, dosen kira kita robot apah, ga dikasih jeda ke, huff…..
Tugasnya pun bukan kaya tugas SMA, tapi tugas berat. Udah susah, butuh banyak duit pula. Aaagggghhhh. Senangnya kalau teman-teman disini, ada beberapa tugas yang dasarnya sudah mereka tau. Contohnya saja, edit film, mana ada di Flores yang ajarin edit film. Yang ada Cuma gambar di paint. Bikin sebel. Dan akhirnya saya perlu kerja keras untuk mengejar ketertinggalan saya.
Tapi dengan adanya tugas, saya sadar ternyata lebih enak kalau tugas dikerjakan sendiri. Semakin banyak kepala, semakin banyak ide, dan banyak yang tidak mau mengalah. Apalagi kalau kerja sama dengan orang yang sangat bertolak belakang dengan kita. Baru-baru ini saya mengalami hal yang tidak enak saat mengerjakan tugas secara bersama dengan kelompok besar.
Setelah UTS ini kami ditugaskan dalam mata kuliah Manajemen Produksi Media, untuk membuat acara televisi. Dan itu dibuat dalam kelompok besar, hamper 30-an orang. Kata dosen sih, acaranya tidak begitu penting, yang penting adalah gimana manajemen kita. Okeylah dengan senang hati kami mulai mengadakan rapat bersama. Awalnya sih baik-baik, tapi untuk menentukan 1 pilian acara sampai menghabiskan waktu begitu lama.
So, kelas praktikum kita akan membuat sebuah cerita semi reality. Awalnya seh, rencananya kaya gitu. Tapi akhirnya melenceng jauh. Sebagai penulis skenario bersama teman saya kami akhirnya menyusun sebuah skrip sesuai ide awal. Untungnya saya dan rekan saya itu sehati dalam membuat skrip. Kami juga sama-sama movieholic, jadi memudahkan kami membuat sebuah cerita simple dengan edit yang menarik kaya ‘wickerpark’ gitu.
Tetapi, ternyata sutradara maunya lain. Wah, dan itu menjadi masalah besar. Akhirnya rapat kembali dan sangat lama, maklum 35 kepala. Akhirnya voting, dan skrip pertama yang disetujui. Berjalannya waktu, ada yang perlu diubah. Dengan susah payah akhirnya saya dan teman saya merevisi kembali skrip tersebut, perlu dicatat membuat skrip film TIDAK mudah. Tapi untungnya selesai juga.
Ternyata semakin banyak kepala, bakal semakin complicated. Mending kalau bekerja sama kelompok kecil ajah. Tugas-tugas tersebut sangat menyita pikiran, kurang tidur, dan kepala kayanya mau pecah. Sekarang pengennya cepat-cepat lulus, pengen cepat dapat kerja (Amin). Oh, Tuhan, cepatlah berakhir tugas-tugas ini.
Okey, udah dulu yah, mu rekaman dulu untuk tugas. Tttttiiidaaaakkkkkk……. T__T’

